20090701

Tanpa orgasme bisa hamil


Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Kehamilan bukan ditentukan oleh orgasme atau tidaknya istri, melainkan oleh subur atau tidaknya suami dan istri sebagai satu pasangan. Karena itu, jika yang diinginkan adalah orgasme, temukan apa yang menjadi faktor penyebab tidak terjadinya orgasme. Jika ingin hamil, suami juga harus diperiksa.

Tergantung Kesuburan

Kalau saya boleh menduga, tampaknya Anda ingin segera hamil, tetapi Anda menghubungkan dengan tiadanya kenikmatan seksual (orgasme) setiap melakukan hubungan seksual. Padahal, tidak ada kaitan antara kemampuan menjadi hamil dengan kemampuan mencapai orgasme.

Itu berarti seseorang yang tidak dapat atau tak pernah mencapai orgasme mungkin saja dapat hamil. Di sisi lain, seseorang yang mampu atau selalu mencapai orgasme mungkin saja mengalami hambatan hamil.

Kemampuan wanita mencapai orgasme ditentukan oleh komunikasi dengan pasangan, rangsangan yang diterima baik fisik maupun psikis, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikis, dan fungsi seksual pasangannya. Kalau faktor yang menentukan tersebut mengalami hambatan, orgasme akan terhambat. Sebaliknya, kalau faktor tersebut mendukung, orgasme dapat tercapai.

Kalau sejak menikah Anda tidak pernah mencapai orgasme, mungkin penyebabnya adalah salah satu atau lebih faktor di atas. Berarti kalau faktor penyebab tersebut diatasi, Anda akan dapat mencapai orgasme.

Namun, kegagalan mencapai orgasme, tidak berarti Anda juga mengalami kegagalan menjadi hamil. Terjadinya kehamilan ditentukan oleh keadaan kesuburan suami dan istri sebagai satu pasangan.

Kalau keadaan kesuburan kedua pihak baik, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menjadi hamil. Tentu saja kalau tidak terjadi hambatan pada hubungan seksual, khususnya pada saat subur wanita. Hubungan seksual di luar masa subur tidak mungkin menghasilkan kehamilan.

Suami Periksa

Pasangan suami istri dianggap sebagai pasangan tidak subur (infertil) kalau kehamilan belum terjadi walaupun telah melakukan hubungan seksual secara teratur selama satu tahun tanpa kontrasepsi. Hanya saja, memang baik memeriksakan kesuburan walaupun belum tergolong sebagai pasangan infertil.

Untuk menentukan kesuburan pada pria, diperlukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan sperma. Bila diperlukan, lakukan juga pemeriksaan hormon dan pemeriksaan laboratorium yang lain. Pada wanita, kesuburan dilihat dengan mengetahui ada tidaknya sel telur dan normal tidaknya sistem reproduksi, khususnya mulut rahim, bagian dalam rahim, dan saluran telur.

Pertanyaan yang perlu dijawab ialah pemeriksaan apa saja yang telah Anda alami dan apakah sudah benar dan memadai untuk menentukan keadaan kesuburan dan ada tidaknya gangguan pada sistem reproduksi. Demikian juga yang dialami oleh suami Anda.

Mengenai sperma yang keluar kembali dari vagina, itu sesuatu yang wajar. Tentu saja sperma akan keluar kembali dari vagina. Kalau tidak keluar kembali, ke mana perginya cairan sperma itu? Untuk terjadi kehamilan diperlukan sel spermatozoa yang terkandung di dalam cairan sperma.

Mengenai posisi rahim (uterus) memang dapat berpengaruh untuk terjadinya kehamilan, apalagi kalau sampai mempengaruhi letak mulut rahim. Posisi retroversi berarti posisi rahim menuju ke arah belakang. Namun, perlu diketahui seberapa besar perubahan tersebut dan apakah mempengaruhi letak mulut rahim.

Anda dapat meminta penjelasan lebih jauh kepada dokter yang memeriksa. Pengaturan posisi hubungan seksual diperlukan terutama untuk menyesuaikan dengan letak posisi mulut rahim.

Bisa tidaknya Anda punya anak tentu tergantung juga pada keadaan kesuburan suami. Karena itu suami juga mutlak perlu diperiksa. Justru pemeriksaan kesuburan pria lebih mudah dilakukan. Masalahnya, masih banyak orang yang menganggap terjadinya kehamilan adalah urusan wanita, bukan pria.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar